Libur semester
telah selesai, hal yang sangat menyedihkan untuk setiap mahasiswa, terlebih
mereka yang dapat dikatakan anak rantau, seperti aku. Selamat tinggal zona
ternyaman, selamat tinggal kampung halaman!
Semester
baru pun sudah membuka pintunya dan mengucapakan Selamat datang. Selamat
datang apa?? Selamat datang kesibukan, selamat datang untuk 3 praktikum,
selamat datang laporan, selamat datang japok, selamat datang Sistem Kebut Semalam!
Banyak
hal spesial yang aku rasakan disetiap semester. Bagaimana dengan semester 4,
semester yang aku mulai jalani saat ini?. Pertanyaan yang membuat otak kanan
dan otak kiriku berlomba mencari jawaban. Mungkin aku tidak tidur saat masa
ujian dan menghabiskan malam-malam ku dengan mengerti 12 mata kuliah yang aku
ambil, bayangkanlah!. Mungkin aku akan menghabisakan waktu dengan membuat
laporan yang tebalnya melebihi pembuatan skripsi, atau mungkin kulitku yang
kecokelatan akan berubah menjadi hitam karena banyak terjun kelapangan, atau
mungkin lagi aku mendapat sukacita dan pengalaman baru lebih dari semester
sebelumnya. Mungkin hanya mungkin, semoga kemungkinan yang terakhir benar
adanya, dan kemungkinan yang pertama, dua, tiga itu hanyalah imajinasiku yang
berlebihan.
Sedikit
cerita minggu pertama disemester 4 ini.
Ketika
aku merasakan mereka yang aku sebut teman menjadi sosok yang bukan seperti
teman. Seperti apa? Aku pun tidak tahu, yang jelas mereka berubah. Ketika aku berpikir mereka membenci
aku, atau aku menjadi penghalang mereka, atau aku yang berubah. What’s my fault?.
Minggu
pertama biasanya selalu dijadikan pembuatan kelompok praktikum ataupun mata
kuliah yang sering mengadakan presentasi.
Aku berpikir
akan tidak sulit bagiku dalam mendapatkan teman kelompok, karena aku yakin kelompokku yang lama akan menjadi satu kelompok lagi denganku, tapi apa yang
terjadi? Itu hanya pikiran semata, yang kenyataannya mereka yang dulu tak lagi
sama. Aku bertanya, bagaimana kelompok praktikum, apa kelompok lama kita lagi
aja, biar cepat daftarnya, dapat yang sesuai jadwal? Dan mereka jawab tidak
tau. Aku bertanya satu per satu dengan mereka, dengan jawaban yang sama, aku
tidak tahu. Saat itu aku masih sabar, dan berpikir apa aku ada salah kepada
mereka, salah apa aku? Pertanyaan itu terus yang muncul sampai dititik aku
mulai jengkel, dan akhirnya aku mencari sendiri kelompokku karena mereka sama
sekali tidak menanyakan kepadaku. Aku bingung, sedih, takut. Bingung karena tidak tahu siapa yang mau,
sedih karena kenapa disaat seperti ini aku seperti tidak ada teman, dan takut
nantinya aku tidak mendapat kelompok. Aku bergumul sendiri, hampir saja aku
menangis di kampus karena itu. ( kalian pasti berpikir aku cengeng. Itulah kenyataannya!) Betapa besar kasih Tuhan, Dia tidak
akan membiarkan kita bergumul sendiri, sangat bersyukur ketika Tuhan urapi kasihnya dan akhirnya ada teman angkatanku yang
masih kekurangan anggota kelompok dan dengan senang hati aku masuk
kekelompoknya, walaupun aku belum mengenal yang lain lebih dekat seperti teman –
teman sekelasku. Tuhan memang begitu baik, sangat baik!
Setelah
aku mendapatkan kelompok ternyata teman kelompok lama ku masih kekurangan
anggota. Sedih sangat sedih, kenapa mereka tidak menanyakan kepadaku, kenapa
mereka tidak memasukan aku dalam kelompok, padahal aku jelas tidak punya
kelompok, jelas sekali aku mau sekelompok dengan mereka. Tapi ya sudahlah, aku
harus berbuat apa, aku tidak bisa memaksa mereka untuk memasukan aku kedalam
kelompok mereka. Aku berusaha berfikir positif, mungkin mereka mau mencari
teman baru.
Muncul
lagi pembuatan kelompok baru dengan mata kuliah yang banyak mahasiswa katakan
itu mata kuliah yang sulit. Mendengar itu aku sedikit takut, sedikit. Dalam pembuatan
kelompok itu aku mendapatkan teman-teman yang sangat bisa diandalkan. Hati yang
sangat lega ketika beban semester ini sedikit berkurang dengan sekelompok
dengan mereka dan membuatku tidak takut. Beberapa saat kemudian ternyata teman kelompok lama ku itu
ternyata kebingungan kekurangan kelompok dalam mata kuliah ini. Aku kasihan,
tapi aku takut nantinya aku akan susah dengan mereka, nilaiku tidak sesuai yang
kuharapkan, dan sempat aku berpikir “aahh, tadi mereka aja ga mikirin aku. Aku
ga punya kelompok praktikum aja mereka ga peduli, trus kenapa aku mesti kasihan”. Aku marah pada
diriku sendiri, sungguh jahat aku bisa bepikir seperti itu, sungguh egois aku
ketika aku hanya memikirkan nilaiku sendiri, dan aku malu kenapa aku harus
bergantung nilai dengan orang lain, memanfaatkan mereka yang bisa kuandalkan
hanya untuk nilai, bukan dengan usahaku sendiri, padahal aku tidak pernah diajarkan untuk seperti itu, seharusnya semua aku serahkan ke Tuhan, aku bergantung padaNya bukan manusia. Dan akhirnya aku
memilih untuk masuk kekelompok mereka supaya bisa sama – sama berusaha memberikan yang terbaik dalam mata kuliah ini.
Walaupun
hal yang sangat kecil tapi aku belajar banyak, aku belajar sabar, aku belajar
mengasihi dan aku belajar tentang standard, yaitu bukan di level yang sama
hanya untuk dirimu sendiri, tapi level selanjutnya tentang dirimu untuk orang
lain, dan untuk kampus mu!
aku... Kana..
(Jika ada kesamaan pengalaman mari belajar bersama - sama)