Selasa, 10 Februari 2015

STANDARD

Libur semester telah selesai, hal yang sangat menyedihkan untuk setiap mahasiswa, terlebih mereka yang dapat dikatakan anak rantau, seperti aku. Selamat tinggal zona ternyaman, selamat tinggal kampung halaman!

Semester baru pun sudah membuka pintunya dan mengucapakan Selamat datang. Selamat datang apa?? Selamat datang kesibukan, selamat datang untuk 3 praktikum, selamat datang laporan, selamat datang japok, selamat datang Sistem Kebut Semalam!

Banyak hal spesial yang aku rasakan disetiap semester. Bagaimana dengan semester 4, semester yang aku mulai jalani saat ini?. Pertanyaan yang membuat otak kanan dan otak kiriku berlomba mencari jawaban. Mungkin aku tidak tidur saat masa ujian dan menghabiskan malam-malam ku dengan mengerti 12 mata kuliah yang aku ambil, bayangkanlah!. Mungkin aku akan menghabisakan waktu dengan membuat laporan yang tebalnya melebihi pembuatan skripsi, atau mungkin kulitku yang kecokelatan akan berubah menjadi hitam karena banyak terjun kelapangan, atau mungkin lagi aku mendapat sukacita dan pengalaman baru lebih dari semester sebelumnya. Mungkin hanya mungkin, semoga kemungkinan yang terakhir benar adanya, dan kemungkinan yang pertama, dua, tiga itu hanyalah imajinasiku yang berlebihan.

Sedikit cerita minggu pertama disemester 4 ini.
Ketika aku merasakan mereka yang aku sebut teman menjadi sosok yang bukan seperti teman. Seperti apa? Aku pun tidak tahu, yang jelas mereka berubah. Ketika aku berpikir mereka membenci aku, atau aku menjadi penghalang mereka, atau aku yang berubah. What’s my fault?.
Minggu pertama biasanya selalu dijadikan pembuatan kelompok praktikum ataupun mata kuliah yang sering mengadakan presentasi.

Aku berpikir akan tidak sulit bagiku dalam mendapatkan teman kelompok, karena aku yakin kelompokku yang lama akan menjadi satu kelompok lagi denganku, tapi apa yang terjadi? Itu hanya pikiran semata, yang kenyataannya mereka yang dulu tak lagi sama. Aku bertanya, bagaimana kelompok praktikum, apa kelompok lama kita lagi aja, biar cepat daftarnya, dapat yang sesuai jadwal? Dan mereka jawab tidak tau. Aku bertanya satu per satu dengan mereka, dengan jawaban yang sama, aku tidak tahu. Saat itu aku masih sabar, dan berpikir apa aku ada salah kepada mereka, salah apa aku? Pertanyaan itu terus yang muncul sampai dititik aku mulai jengkel, dan akhirnya aku mencari sendiri kelompokku karena mereka sama sekali tidak menanyakan kepadaku. Aku bingung, sedih, takut. Bingung karena tidak tahu siapa yang mau, sedih karena kenapa disaat seperti ini aku seperti tidak ada teman, dan takut nantinya aku tidak mendapat kelompok. Aku bergumul sendiri, hampir saja aku menangis di kampus karena itu. ( kalian pasti berpikir aku cengeng. Itulah kenyataannya!) Betapa besar kasih Tuhan, Dia tidak akan membiarkan kita bergumul sendiri, sangat bersyukur ketika Tuhan urapi kasihnya dan akhirnya ada teman angkatanku yang masih kekurangan anggota kelompok dan dengan senang hati aku masuk kekelompoknya, walaupun aku belum mengenal yang lain lebih dekat seperti teman – teman sekelasku. Tuhan memang begitu baik, sangat baik!

Setelah aku mendapatkan kelompok ternyata teman kelompok lama ku masih kekurangan anggota. Sedih sangat sedih, kenapa mereka tidak menanyakan kepadaku, kenapa mereka tidak memasukan aku dalam kelompok, padahal aku jelas tidak punya kelompok, jelas sekali aku mau sekelompok dengan mereka. Tapi ya sudahlah, aku harus berbuat apa, aku tidak bisa memaksa mereka untuk memasukan aku kedalam kelompok mereka. Aku berusaha berfikir positif, mungkin mereka mau mencari teman baru.

Muncul lagi pembuatan kelompok baru dengan mata kuliah yang banyak mahasiswa katakan itu mata kuliah yang sulit. Mendengar itu aku sedikit takut, sedikit. Dalam pembuatan kelompok itu aku mendapatkan teman-teman yang sangat bisa diandalkan. Hati yang sangat lega ketika beban semester ini sedikit berkurang dengan sekelompok dengan mereka dan membuatku tidak takut. Beberapa saat kemudian ternyata teman kelompok lama ku itu ternyata kebingungan kekurangan kelompok dalam mata kuliah ini. Aku kasihan, tapi aku takut nantinya aku akan susah dengan mereka, nilaiku tidak sesuai yang kuharapkan, dan sempat aku berpikir “aahh, tadi mereka aja ga mikirin aku. Aku ga punya kelompok praktikum aja mereka ga peduli, trus kenapa aku mesti kasihan”. Aku marah pada diriku sendiri, sungguh jahat aku bisa bepikir seperti itu, sungguh egois aku ketika aku hanya memikirkan nilaiku sendiri, dan aku malu kenapa aku harus bergantung nilai dengan orang lain, memanfaatkan mereka yang bisa kuandalkan hanya untuk nilai, bukan dengan usahaku sendiri, padahal aku tidak pernah diajarkan untuk seperti itu, seharusnya semua aku serahkan ke Tuhan, aku bergantung padaNya bukan manusia. Dan akhirnya aku memilih untuk masuk kekelompok mereka supaya bisa sama – sama berusaha memberikan yang terbaik dalam mata kuliah ini.


Walaupun hal yang sangat kecil tapi aku belajar banyak, aku belajar sabar, aku belajar mengasihi dan aku belajar tentang standard, yaitu bukan di level yang sama hanya untuk dirimu sendiri, tapi level selanjutnya tentang dirimu untuk orang lain, dan untuk kampus mu!
aku... Kana..
(Jika ada kesamaan pengalaman mari belajar bersama - sama)